SELAMAT DATANG di BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) KEC. PAJO KAB. DOMPU

Senin, 03 Agustus 2020

MANFAAT TANAMAN AZOLLA PENGGANTI UREA

Coba kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita (terutama petani) masih ketergantungan terhadap pupuk kimia? ya pupuk kimia misal urea? jawabannya adalah sangat, karena ketergantungan inilah kita terkadang menderita atas fluktuasi harga pupuk yang terjadi dipasaran.



Selain itu, efek samping yang ditimbulkan pupuk kimia ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan lingkungan maupun hasih pertanian kita, kita abil contoh saja Urea. Sulit bagi kita untuk menentukan kadar yang tepat dalam menggunakan urea.


Nah inilah saatnya kita menggunakan bahan-bahan organik untuk menggantikan urea dalam memupuk tanaman kita. terutama bagi penanam padi. Namanya adalah Rumput Azolla. rumput ini biasa tumbuh liar di sekitar pesawahan, dan sering dianggap hama. sebenarnya tanaman ini sangat berguna dan sangat cocok untuk dijadikan pengganti urea. 


Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. karena bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.

Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.


Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.

Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.

Untuk media tanam


Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.


Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.


Cara Menggunakan Azolla untuk pupuk tanaman Padi

  1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit
  2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam
  3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. 

Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat :

  •         Mengambil N yang hanyut dan menguap
  •         Menahan pertumbuhan gulma

Sumber: Berbagai sumber

Jadi kini saatnya kembali ke alam.


Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.

Salam Hijau


Minggu, 02 Agustus 2020

BUDIDAYA TANAMAN CABE

BUDIDAYA TANAMAN CABE



Cara budidaya tanaman Cabe - Cabe adalah merupakan tumbuhan yang dikelompokkan dalam anggota genus Capsicum. Buah cabe dapat juga digolongkan sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.


Karena pemanfaatan cabe sebagai penyedap bumbu sangat besar di Indonesia, sehingga cabe memiliki nilai ekonomi tinggi. Banyaknya
permintaan akan buah cabe membuat tanaman ini banyak dibudidayakan oleh petani.


Budidaya tanaman cabe atau cara menanam cabe memang tergolong sudah banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di pedasaan. Umumnya cabe ditanam pada tanah yang kaya humu, gembur dan tidak tergenang air. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan, yaitu sekitar bulan Maret hingga April. Sementara untuk memperoleh harga yang tinggi, maka penanaman bisa dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun sangat besar resiko kegagalan panen.


Bagi Anda yang berminat untuk menanam cabe, maka berikut ini akan dipublikasikan secara detail cara budidaya tanaman cabe atau cara budidaya cabe kepada Anda:

Cara Menanam Cabe

Untuk menaman cabe, maka beberapa hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan bibit yang tepat, pembuatan semaian, persiapan lahan, penanaman dan lain sebagainya. Untuk memperjelas masing-masing proses penanaman cabe mulai dari awal hingga panen, maka berikut adalah penjelasannya secara detail yang akan dipublikasikan kepada Anda:


1. Pemilihan bibit cabe

Untuk memilih bibit cabe yang tepat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah menentukan jenis cabe yang akan ditanam, misalnya cabe rawit, cabe panjang dan juga cabe merah. Selain itu perlu juga menentukan bibit cabe yang masih segar dan yang kemudian dikupas untuk diambil bijinya. Biji cabe yang sudah dipilah dari kulitnya kemudian di jemur dibawah terik sinar matahari hingga kering.


2. Membuat semaian cabe

Cara membuat semaian cabe disini adalah dengan menggunakan bedengan semai. Beberapa langkah pembuatan bedengan semai dimulai dengan pembersihan tempat bedengan dan mempersiapkan bedengan. Setelah bedengan selesai dibuat, maka tahapan selanjutnya adalah menaburkan pupuk kandang dan pupuk kimia TSP secukupnya pada lahan bedengan yang sudah tersedia. Pemberian pupuk ini dimasudkan untuk mempercepat proses pertumbuhan bibit cabe.


Langkah selanjutnya adalah menaburkan bibit cabe ke dalam bedengan semai. Jangan lupa menutup bagian atas menggunakan gulma kering (biasanya menggunakan alang-alang kering) yang disangga dengan kayu jarang antara tanah dengan bedengan penyangga bedengan sebagai atap adalah sekitar 50 cm. Hal ini dilakukan agar sinar matahari tidak masuk langsung mengenai semaian bibit cabe.


Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelembaban tanah bedengan secara optimal. Kelembaban tanah dapat dipertahankan bila dilakukan penyiraman setiaphari lewat atas gulma kering. Hal ini dimaksudkan agar air yang jatuh tidak langsung mengenai tanah tempat semaian cabe.


Penyemaian bibit cabe dilakukan pada waktu 1 hingga 1,5 bulan. Namun pada saat bibit cabe sudah tumbuh minimal 4 helai daun, maka sebenarnya proses pemindahan sudah dapat dilakukan ke lahan yang tersedia.


3. Persiapan lahan

Sambil menunggu semaian bibit cabe tumbuh dan siap untuk dipindahkan, maka hal selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan lahan pertanian. Dalam mempersiapkan lahan disini, maka hal-hal yang harus dilakukan adalah menggemburkan tanah pertanian serta membuang seluruh gulma yang ada pada lahan penanaman.


Setelah proses pembersihan dan penggemburan lahan dilakukan, maka selanjutnya hal yang harus lakukan adalah pembuatan lubang yang berjarak antara 40 hingga 60 cm. Lubang ini ini dimaksudkan untuk lubang menanam bibit cabe.


4. Penanaman cabe

Masa penanaman cabe yang tepat adalah ketika kadar curah hujan yang tidak terlalu tinggi, namun bukan musim kemarau. Setelah itu pastikan pemilihan bibit dari semaian dan masukkan kelubang yang telah diperiapkan sebelumnya. Lubang yang telah terisi bibit cabe kemudian ditutup, bila hujan tidak datang, maka bibit cabe yang sudah ditanam sebaiknya disiram secara rutin pada pagi atau sore hari.


5. Pemupukan tanaman cabe

Setelah tanaman cabe berumur 2 minggu, maka proses pemupukan sudah dapat dilakukan. Adapun pupuk yang diberikan adalah campuran dari TPS dan Urea secukupnya pada setiap batang cabe dengan cara pupuk yang diletakkan dari batang tanaman adalah sekitar 5-10 cm. Selain itu pupuk juga bisa dicampur dengan kompos yang berasal dari kotoran ayam dan juga dari kotoran hewan lainnya.



6. Perawatan tanaman cabe

Perawatan tanaman cabe harus tetap diperhatikan, seperti penyiraman tanaman jika curah hujan kurang, selain itu gulma pada lahan juga harus secara rutin dibersihkan. Hal lainnya yang harus dilakukan adalah melakukan penyemprotan pestisida secara rutin sesuai dengan anjuran.


7. Pemanenan

Lakukan pemanenan buah cabe dengan cara memetik buah yang telah masak dan segar. Buah cabe yang sudah dipetik sebaiknya dimasukkan didalam kemasan atau wadah yang memiliki aliran sirkulasi udara yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar buah cabe yang dipetik tidka mudah busuk.

Cara Menanam Cabe - Cabe adalah merupakan tumbuhan yang dikelompokkan dalam anggota genus Capsicum. Buah cabe dapat juga digolongkan sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.


Karena pemanfaatan cabe sebagai penyedap bumbu sangat besar di Indonesia, sehingga cabe memiliki nilai ekonomi tinggi. Banyaknya permintaan akan buah cabe membuat tanaman ini banyak dibudidayakan oleh petani.


Budidaya tanaman cabe atau cara menanam cabe memang tergolong sudah banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di pedasaan. Umumnya cabe ditanam pada tanah yang kaya humu, gembur dan tidak tergenang air. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan, yaitu sekitar bulan Maret hingga April. Sementara untuk memperoleh harga yang tinggi, maka penanaman bisa dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun sangat besar resiko kegagalan panen. (UA-40096279-1)


Bagi Anda yang berminat untuk menanam cabe, maka berikut ini akan dipublikasikan secara detail cara menanam cabe atau cara budidaya cabe kepada Anda:


Cara Budidaya Cabe

Untuk menaman cabe, maka beberapa hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan bibit yang tepat, pembuatan semaian, persiapan lahan, penanaman dan lain sebagainya. Untuk memperjelas masing-masing proses penanaman cabe mulai dari awal hingga panen, maka berikut adalah penjelasannya secara detail yang akan dipublikasikan kepada Anda:




1. Pemilihan bibit cabe

Untuk memilih bibit cabe yang tepat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah menentukan jenis cabe yang akan ditanam, misalnya cabe rawit, cabe panjang dan juga cabe merah. Selain itu perlu juga menentukan bibit cabe yang masih segar dan yang kemudian dikupas untuk diambil bijinya. Biji cabe yang sudah dipilah dari kulitnya kemudian di jemur dibawah terik sinar matahari hingga kering.


2. Membuat semaian cabe

Cara membuat semaian cabe disini adalah dengan menggunakan bedengan semai. Beberapa langkah pembuatan bedengan semai dimulai dengan pembersihan tempat bedengan dan mempersiapkan bedengan. Setelah bedengan selesai dibuat, maka tahapan selanjutnya adalah menaburkan pupuk kandang dan pupuk kimia TSP secukupnya pada lahan bedengan yang sudah tersedia. Pemberian pupuk ini dimasudkan untuk mempercepat proses pertumbuhan bibit cabe.


Langkah selanjutnya adalah menaburkan bibit cabe ke dalam bedengan semai. Jangan lupa menutup bagian atas menggunakan gulma kering (biasanya menggunakan alang-alang kering) yang disangga dengan kayu jarang antara tanah dengan bedengan penyangga bedengan sebagai atap adalah sekitar 50 cm. Hal ini dilakukan agar sinar matahari tidak masuk langsung mengenai semaian bibit cabe.


Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelembaban tanah bedengan secara optimal. Kelembaban tanah dapat dipertahankan bila dilakukan penyiraman setiaphari lewat atas gulma kering. Hal ini dimaksudkan agar air yang jatuh tidak langsung mengenai tanah tempat semaian cabe.


Penyemaian bibit cabe dilakukan pada waktu 1 hingga 1,5 bulan. Namun pada saat bibit cabe sudah tumbuh minimal 4 helai daun, maka sebenarnya proses pemindahan sudah dapat dilakukan ke lahan yang tersedia.


3. Persiapan lahan

Sambil menunggu semaian bibit cabe tumbuh dan siap untuk dipindahkan, maka hal selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan lahan pertanian. Dalam mempersiapkan lahan disini, maka hal-hal yang harus dilakukan adalah menggemburkan tanah pertanian serta membuang seluruh gulma yang ada pada lahan penanaman.


Setelah proses pembersihan dan penggemburan lahan dilakukan, maka selanjutnya hal yang harus lakukan adalah pembuatan lubang yang berjarak antara 40 hingga 60 cm. Lubang ini ini dimaksudkan untuk lubang menanam bibit cabe.



4. Penanaman cabe

Masa penanaman cabe yang tepat adalah ketika kadar curah hujan yang tidak terlalu tinggi, namun bukan musim kemarau. Setelah itu pastikan pemilihan bibit dari semaian dan masukkan kelubang yang telah diperiapkan sebelumnya. Lubang yang telah terisi bibit cabe kemudian ditutup, bila hujan tidak datang, maka bibit cabe yang sudah ditanam sebaiknya disiram secara rutin pada pagi atau sore hari.



5. Pemupukan tanaman cabe

Setelah tanaman cabe berumur 2 minggu, maka proses pemupukan sudah dapat dilakukan. Adapun pupuk yang diberikan adalah campuran dari TPS dan Urea secukupnya pada setiap batang cabe dengan cara pupuk yang diletakkan dari batang tanaman adalah sekitar 5-10 cm. Selain itu pupuk juga bisa dicampur dengan kompos yang berasal dari kotoran ayam dan juga dari kotoran hewan lainnya.


6. Perawatan tanaman cabe

Perawatan tanaman cabe harus tetap diperhatikan, seperti penyiraman tanaman jika curah hujan kurang, selain itu gulma pada lahan juga harus secara rutin dibersihkan. Hal lainnya yang harus dilakukan adalah melakukan penyemprotan pestisida secara rutin sesuai dengan anjuran.


7. Pemanenan

Lakukan pemanenan buah cabe dengan cara memetik buah yang telah masak dan segar. Buah cabe yang sudah dipetik sebaiknya dimasukkan didalam kemasan atau wadah yang memiliki aliran sirkulasi udara yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar buah cabe yang dipetik tidka mudah busuk.


TUMPANG SARI

PENDAHULUAN


Kecamatan Woja Kabupaten Dompu memiliki Lahan kering dengan luas 5.757 Ha sangat berpotensi menghasilkan bahan pangan yang cukup dan bervariasi, dak hanya padi gogo tetapi juga jagung dan kedelai, bila dikelola menggunakan teknologi efekf dengan strategi pengemba ngan yang tepat. Pola tanam yang dikembangkan di lahan kering harus memperhitungkan tenggang waktu antara panen dan tanam yang sesingkat-singkatnya sehingga memungkinkan untuk meningkatkan intensitas tanam. Pola tanam di lahan kering dengan menerapkan sistem tanam tumpangsari lebih produkf karena pada pola tanam ini populasi tanaman lebih banyak dan beragam. Dengan sistem tanam tumpangsari dapat mengurangi resiko kegagalan panen atau kerugian salah satu tanaman serta mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan usahatani. Sistem tanam tumpangsari dapat juga dilakukan di lahan sawah pada musim kemarau (MK I/MK II) yaitu dengan memperbaiki pola tanam palawija secara monokultur menjadi tumpangsari padi gogo dan jagung, padi gogo dan kedelai atau kedelai dan jagung.



PADI DAN KEDELAI


Pada pertanaman tumpangsari padi de ngan jagung atau kedelai dengan jagung di musim hujan, penanaman jagung secara tugal dilakukan setelah tanaman padi atau kedelai berumur 7 hari.


A. Varietas Padi dan Kedelai


Varietas padi dan kedelai dengan jarak tanam lebih rapat dengan kondisi air terbatas, sehingga menggunakan varietas yang memiliki karakterisk, antara lain sebagai beri kut :


  1. Toleran terhadap naungan, 
  2. Toleran terhadap keterbatasan air/kekeringan, dan
  3. Tahan terhadap blas (khusus pada lahan kering).


Pada lahan sawah yang ditanam di musim kemarau (MK I/MK II), selain menggunakan varietas Inpago dapat menggunakan varietas Inpari yang tahan kekeringan, seper‰ : Limboto, TowuÁ, Batutegi, Situbagendit, Inpari 10, Inpari 13, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 42 dan Inpari 43, Inpago (4 s/d 9). Sementara itu, di lahan kering pada musim hujan (MH) dak dianjurkan menggunakan varietas Inpari karena pada wilayah endemik penyakit blas, sebaiknya menggunakan varietas padi gogo (Inpago), seper‰ Inpago (1 s/d 12), Rindang 1 Agritan, Rindang 2 Agritan, Jaluhur, Limboto, TowuÁ, Batutegi, Situ bagendit, Situ Patenggang

Untuk varietas kedelai yang digunakan di lahan sawah (MK I/MK II) adalah Dena 1, Dena 2, Dering 1, Anjasmoro, Kaba, Grobogan, dan Devon, sedangkan di lahan kering (MH) adalah Dena 1, Dering 1, Deja 1, Anjasmoro, Dega 1, Grobogan, Argomulyo, dan Devon 1


B. Pengolahan Tanah


Untuk lahan sawah, pengolahan tanah dapat dilakukan dengan olah tanah minimum (OTM) atau tanpa olah tanah (TOT) dengan membersihkan lahan dari tunggul jerami dan rumput, menggunakan herbisida pra tumbuh.

Pada lahan kering, sebelum turun hujan, tanah diolah dengan cangkul atau garpu, diratakan.


C. Penanaman



  1. Setelah terjadi hujan 3 kali atau tanah dalam kapasitas lapang, dilakukan tanam padi secara tugal atau dengan alat tanam ATABELA atau Drum Seeder, seminggu kemudian tanam kedelai dalam tumpangsari dengan padi.
  2. Sistem tanam padi 4 baris dengan jarak tanam (20 cm x 10 cm) x 100 cm, populasi tanaman mencapai sekitar 250.000 rumpun/ha. Kedelai ditanam dengan sistem tanam 4 baris dengan jarak tanam (20 cm x 15 cm) x 100 cm, populasi tanaman mencapai sekitar 166 . 667 tanaman/ha.
  3. Barisan tanaman sebaiknya searah matahari, agar memperoleh cahaya matahari yang maksimal.
  4. Kebutuhan benih padi sebanyak 50 kg/ha dengan 3-5 biji per lubang, dan kebutuhan benih kedelai sebanyak 60 kg/ha dengan 2 biji per lubang.
  5. Untuk lahan yang belum pernah ditanami kedelai. Sebelum tanam, benih kedelai perlu diinokulasi rhizobium de ngan cara benih dibasahi dengan air secukupnya kemudian dicampur inokulan rhizobium, diaduk secara merata.



D. Pemupukan

  1. Pemupukan menggunakan rekomendasi untuk padi, sedangkan tanaman kedelai memperoleh manfaat dari pemupukan padi.
  2. Dosis pupuk yang digunakan ada lah 250 kg Urea/ha + 300 kg Ponska/ha + 1 ton pupuk organik/ha.
  3. Cara pemupukan padi gogo + ke delai : 1/3 bagian dosis pupuk Urea dan seluruh dosis pupuk Ponska diberikan setelah tanaman tumbuh berumur + 10 hari, kemudian 2/3 bagian dosis pupuk Urea sisanya diberikan setelah tanaman berumur 35 hari. Pupuk organik diberikan setelah tanam sebagai penutup lubang tanam lubang tanam padi dan kedelai.


E. Pengendalian Gulma


Pengendalian gulma secara manual, mekanis atau herbisida pra tumbuh (1 mst) dan pasca tumbuh (2 mst), Penyia ngan I umur + 15 hari dan penyiangan II umur + 25 hari.


F. Pengendalian Hama Dan Penyakit


Menerapkan kaidah pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT), melipu :


  • Pengelolaan/pemilihan varietas yang tepat, pengelolaan kultur teknis dan pengendalian biologis.
  • Penggunaan pessida dilaksanakan bila populasi hama melampaui batas ambang kendali.


G. Panen


  1. Panen dilakukan pada saat matang fisiologis, yaitu untuk padi gogo bilamana 90% bulir padi telah menguning; untuk kedelai bila polong pada batang utama berwarna coklat dan 95% daun telah menguning
  2. Panen padi dapat dilakukan secara manual atau mekanisasi menggunakan combine harvester, sedangkan kedelai dilakukan secara manual.
  3. Gabah dan polong yang dihasilkan dikeringkan dengan dryer atau dijemur hingga mencapai kadar air sekitar 14%.



DIPOSTING OLEH

NURDIN, SST PPL / WKPP DESA RIWO KEC. WOJA KAB. DOMPU